“Beta Maluku” Raih Juara I Kompetisi Video Rebranding Bangkom HUT ke-69 LAN RI, Kobarkan Semangat ASN dari Wilayah 3T

Semangat dan perjuangan Aparatur Sipil Negara (ASN) dari wilayah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar) Provinsi Maluku berhasil menorehkan prestasi di tingkat nasional. Karya video berjudul “Beta Maluku” yang diproduksi oleh Sandro, S.Si.,M.Sc, Widyaiswara Ahli Pertama BPSDM Provinsi Maluku, bersama Faiq Muhammad Fauzan, S.I.Kom., peserta Pelatihan Dasar (Latsar) CPNS dari Kabupaten Buru Selatan, berhasil meraih Juara I Kompetisi Video dalam rangka HUT ke-69 Lembaga Administrasi Negara Republik Indonesia (LAN RI).

Kompetisi yang diselenggarakan LAN RI menjelang peringatan HUT ke-69 tersebut mengusung tema umum “Rebranding Pengembangan Kompetensi ASN”. Kompetisi ini menjadi bagian dari upaya memperkuat komunikasi publik sekaligus mengkampanyekan pentingnya pengembangan kompetensi ASN dalam mendukung peningkatan kualitas pelayanan publik.

Melalui kompetisi tersebut, LAN RI memberikan ruang bagi ASN untuk menyampaikan gagasan, pengalaman, dan inovasi pengembangan kompetensi melalui karya video kreatif yang inspiratif dan berdampak. Peserta juga diperbolehkan memanfaatkan teknologi AI Generate sebagai bagian dari proses produksi karya.

Di balik keberhasilan “Beta Maluku”, terdapat cerita tentang perjuangan ASN dan peserta Latsar CPNS yang menjalankan pengabdian dari wilayah kepulauan Maluku. Sandro berperan sebagai Coach, sementara Faiq merupakan Coachee sekaligus peserta Latsar CPNS dari Kabupaten Buru Selatan.

Keduanya mengangkat pengalaman nyata tentang bagaimana semangat pengembangan kompetensi tetap tumbuh di tengah tantangan minimnya infrastrukur pendukung, seperti pemadaman listrik dan terbatasnya jaringan internet di wilayah 3T Kabupaten Buru Selatan.

Video “Beta Maluku” menghadirkan simbol obor perjuangan pengembangan kompetensi ASN. Obor tersebut menggambarkan sebuah keyakinan bahwa api semangat untuk terus belajar, berkembang, dan memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat tidak boleh padam, di mana pun ASN menjalankan tugasnya.

Dari wilayah 3T, perjuangan itu terus menyala. Keterbatasan jarak dan kondisi geografis tidak menjadi alasan untuk berhenti meningkatkan kompetensi. Sebaliknya, tantangan tersebut menjadi energi untuk menemukan cara-cara baru dalam belajar, berkolaborasi, dan memanfaatkan teknologi.

Pesan inilah yang kemudian menjadi kekuatan utama “

Beta Maluku”. Karya tersebut tidak sekadar menampilkan kreativitas visual, tetapi membawa realitas perjuangan ASN di daerah ke dalam sebuah narasi yang lebih luas, bahwa kesempatan untuk mengembangkan kompetensi harus dapat dirasakan oleh seluruh ASN Indonesia, termasuk mereka yang bertugas di wilayah kepulauan dan 3T.

Kemenangan tersebut juga memperlihatkan arti penting kolaborasi antara Coach dan Coachee dalam proses pengembangan kompetensi. Pengalaman Faiq sebagai peserta Latsar CPNS dipadukan dengan pendampingan Sandro sebagai Widyaiswara untuk melahirkan sebuah karya yang mampu mengubah pengalaman nyata di lapangan menjadi pesan komunikasi publik yang inspiratif.

Pemanfaatan teknologi menjadi salah satu pesan penting yang turut diangkat dalam karya ini. Teknologi yang digunakan secara tepat guna dan tepat sasaran dapat menjadi jembatan untuk memperluas akses pengembangan kompetensi sekaligus membuka kesempatan yang lebih setara bagi ASN di berbagai pelosok Indonesia.

Bagi BPSDM Provinsi Maluku, prestasi “Beta Maluku” menjadi kebanggaan sekaligus bukti bahwa ASN dari Maluku mampu bersaing dan menghasilkan karya yang mendapat apresiasi di tingkat nasional.

Lebih dari sekadar sebuah kemenangan kompetisi, Juara I “Beta Maluku” menjadi simbol bahwa dari wilayah kepulauan pun dapat lahir gagasan dan karya yang berbicara tentang masa depan pengembangan kompetensi ASN Indonesia.

Obor yang digambarkan dalam karya tersebut menjadi refleksi bahwa pengembangan kompetensi adalah perjalanan yang harus terus dijaga. Bara semangat untuk belajar, berinovasi, dan meningkatkan kualitas pelayanan publik harus terus menyala, meskipun ASN bekerja dari wilayah dengan berbagai keterbatasan.

Melalui “Beta Maluku”, Sandro dan Faiq menunjukkan bahwa jarak bukan batas untuk berkarya, keterbatasan bukan alasan untuk berhenti belajar, dan teknologi dapat menjadi jembatan menuju kesetaraan pengembangan kompetensi ASN.

Dari Maluku, obor itu menyala.

Beta Maluku. Beta ASN. Beta Indonesia.

 

Video dapat diakses melalui : https://vt.tiktok.com/ZSXK37TUK/